A space to voice thoughts and doubts of Namora.
Random header image... Refresh for more!

Kekuatan ‘janda muda’

Hujan deras menyiram Jakarta sore ini. Sudah setengah jam lebih belum juga reda. Hmm… jalanan macet, jadi malas pergi ke kampus (padahal ada kuliah). Satu persatu SMS dan telpon masuk, menanyakan mau kuliah engga? Mereka sepertinya cuma mau meyakinkan dan menenangkan diri bahwa ternyata tidak hanya dirinya yang tidak kuliah. Intinya, cari teman bolos kuliah … hahaha.

Rasanya lebih baik ngeblog dulu sambil menunggu hujan reda dan jalanan sedikit lancar. Sedikit lancar? kenapa tidak lancar sekalian? You know lah … jakarta kapan bisa lancar jalanannya. Omong-omong tentang jalanan, pas kapan hari saya melihat sebuah grafiti di sebuah truk. Saya lupa detilnya, tapi yang masih teringat ada kata-katanya ‘janda muda’ …. Hahaha hujan gini, masih inget janda muda.

Saya waktu itu sempat berpikir ada apa dengan kata ‘janda muda’ (=jamu). Ada dua kata dasar yaitu ‘janda’ dan ‘muda’. Dua-duanya mempunyai arti tapi kalau digabung bisa menjadi sesuatu yang memberikan konotasi berbeda. Beberapa hari yang lalu saya juga sempat membaca artikel di Kompas tentang pencitraan, pembentukan citra, image oleh pikiran kita terhadap suatu hal.
Demikian pula dengan jamu tadi, ungkapan tersebut dapat memberikan citra (dan cita rasa? heheh) tersendiri. Menurut saya, Itu semua karena kedua kata tersebut kontras. Sebab pada umumnya, usia seorang janda tidaklah muda.

Menjadi sesuatu yang kontras, kadang dapat memberikan kesan tersendiri, menjadi sesuatu yang menarik, menjadi sesuatu yang mendapatkan perhatian. Seorang yang saya kenal berkisah, bahwa suatu saat, aliran listrik di suatu pabrik mati. Dan sialnya, petugas yang biasanya mengoperasikan genset tidak masuk kerja hari itu. Sampai akhirnya pimpinan pabrik turun tangan, dan mencari siapa yang dapat mengoperasikan genset. Ada satu orang yang memberanikan diri untuk mencoba mengoperasikan genset. Dan … akhirnya pabrik dapat beroperasi lagi. Orang tadi adalah sebenarnya pegawai biasa. Hanya saja karena dia sering ngobrol dengan petugas genset, akhirnya dia sedikit banyak tahu. Rupanya pimpinan pabrik terkesan akan peristiwa ini. Dalam hitungan tahun, dalam suatu kesempatan, dia membutuhkan seorang untuk supervisor. Dan akhirnya operator genset ‘dadakan’ tadilah menjadi pilihannya. Saya tidak tahu apakah kisah ini nyambung dengan ‘kontras’ tadi. Tapi saya yakin, salah satu pertimbangan pimpinan pabrik adalah berkaitan dengan peristiwa matinya listrik tadi, dan munculnya tokoh yang fenomenal serta mungkin juga kontras.

Saya juga tidak tahu, sesuatu yang kontras itu sebenarnya menguntungkan atau sebaliknya, merugikan. Kadang sesuatu memang harus kontras untuk menjadi lebih berarti, lebih greget, dan mempunyai advantage value. Dengan menjadi sesuatu yang kontras, sesuatu yang lain, dalam ilmu management mungkin dapat dikatakan memiliki competitive advantage. Kasus tadi adalah salah satu contohnya.

Sayangnya kita kadang enggan dan tidak mau untuk menjadi ‘lain’. Walaupun padahal pada hakikatnya kita semua adalah lain. Everybody is somebody else’s weirdo. Kadang kita (atau saya?) pingin menjadi yang lain. Kita ingin menjadi yang lain-lain itu, sehingga kita miskin akan identitas. Saya kadang ingin tahu ini dan itu, belajar A dan ingin tahu Z, sampai akhirnya tahunya cuma kulit-kulitnya saja. Lebih luas lagi, bangsa kita juga sepertinya mudah latah, mudah terpengaruh dan akhirnya krisis identitas (atau malah sudah dalam multi-krisis?), menjadi sesuatu yang tanggung, dan akhirnya tidak memiliki competitive advantage.

Tapi sudahlah… karena sekarang hujan sudah mulai reda. Dan kata slank, “Kamu harus pulang…”

3 comments

1 Mimin { 05.14.06 at 3:38 am }

Saya juga janda muda…

2 paperone { 06.15.06 at 4:14 am }

saya senang berteman dengan janda muda karena mareka ada banyak inspirasi dan saya ingin tahu kenapa mareka jadi janda muda sekalian jika cocok bisa berlanjut begitu

3 inci { 06.26.06 at 1:23 pm }

janda muda dari mana

Leave a Comment