A space to voice thoughts and doubts of Namora.
Random header image... Refresh for more!

Lebih dan lebih…

Kemarin saya me-review (sebenarnya sih cuma membaca ..) proposal pengadaan suatu system aplikasi dari suatu vendor. Yang menarik dan menjadi perhatian saya adalah mengenai konfigurasi hardware dan software yang dibutuhkan. Ternyata mereka menawarkan sesuatu dan membundlenya seolah-olah dibutuhkan (padahal tidak), dengan memberikan spesifikasi yang terlalu tinggi, dan berlebihan. Misalnya dalam hal software untuk application server dan database server, mereka menggunakan versi / lisensi yang terlampau tinggi dari yang dibutuhkan. Akibatnya tentunya harganya menjadi lebih mahal.

Beberapa minggu yang lalu, ketika berobat, istri saya mendapat obat-obatan dari dokter. Saya coba cari di internet tentang kegunaan obat-obat tersebut (ask google first), dan ternyata obat-obatnya hampir sama isinya, satu sama lain. Artinya seharusnya salah satu obat dapat dihilangkan. Ini tentu berlebihan, redundant (benar ngga sih?), seperti halnya orang yang malas ber-EYD mengatakan “sangat …. sekali”.

Masih tentang obat dan pelayanan dokter, saya jadi teringat keluhan dua orang teman saya yang mengatakan bahwa dia harus merogoh koceknya sampai hampir 500 rb rupiah ketika berobat ke dokter, padahal dia hanya terkena influenza biasa. Hal ini karena ‘dokter memilih’ (bener ngga sih frasa “Indonesia memilih”…) obat yang p4t3n ab!s (hehe abg version), sehingga harganya pun melangit. Belum lagi ditambah vitamin ini-itu, plus biaya jasa dokter, dan administrasi rumah sakit.

Beberapa hari yang lalu, saya sempat dengar talkshow di delta fm, dengan seorang narsum (nara sumber) seorang dokter. Dia mengakui bahwa tidak ada standar yang baku tentang perobatan (bener ngga nih?) dan tata laksana rumah sakit di Indonesia. Salah satu akibatnya adalah tidak ada standar harga obat yang pas. Misalnya untuk obat sejenis antibiotik, atau paracetamol, harganya bervariasi dan berbeda antar satu merk dengan merk yang lain. Di seluruh dunia ini katanya hanya Australia, dengan kontrol dari pemerintah, yang sudah memiliki standar harga obat (sorry ngga sempat nyari skrinsut atau url nya). Sehingga untuk obat dengan kandungan yang sama, akan memiliki harga yang sama untuk merk yang berbeda, meskipun dijual di wilayah (geografis) yang berbeda pula.

Tapi, ya beginilah kondisi negeri ini. Semuanya memang butuh kerja keras karena masih banyak yang perlu dibenahi. Bener juga mungkin yang ditulis oleh Fahmi bahwa negeri ini penuh dengan eksploitasi, terutama buat orang-orang yang gampang diperdaya karena ketidaktahuannya.
Saya jadi teringat tentang iklan layanan masyarakat yang mengajak kita semua di manapun, kapanpun untuk selalu dan tidak berhenti belajar. “Saya Fuad Hasan, mengajak..”, demikian suara Bapak mantan menteri pendidikan kita dalam iklan tersebut.

0 comments

There are no comments yet...

Kick things off by filling out the form below.

Leave a Comment