[Edisi Lebaran #1] AADC
Sebenarnya yang mau saya tulis ini sudah basbang, karena sudah lama kejadiannya. Tapi rasanya sudah lama ngga nulis jadi sepertinya ada panggilan hati (heheh, bahasanya…), untuk menuangkannya perasaan ke-narsis-an ini ke dalam tulisan.
Lebaran kali ini, kami giliran mudik ke keluarga di Surabaya. Untuk mendapatkan kepastian dan kemudahan, akhirnya saya memesan tiket Air Asia (AA) untuk kami berempat sejak sebelum puasa. Hmm mungkin terkesan paranoid alias ketakutan ngga dapat tiket. Tapi biarlah, yang penting saya mendapatkan tiket untuk pulang.
Alasan saya memesan tiket AA di antaranya adalah :
- Saya bisa memesannya online melalui internet. Hal ini mengingat saya orang yang sok sibuk, dan saya (sedang) malas mendatangi biro travel untuk membelinya langsung. Tadinya saya ragu untuk membeli tiket AA secara online via internet, mengingat pengalaman buruk saya 5 tahun yang lalu dengan credit card (CC) saya yang pernah kebobolan dipakai transaksi orang lain, hanya karena saya juga pernah bertransaksi di internet. Tapi setelah diprovokasi adik saya yang juga membeli tiket AA dengan CC (kok jadi AADC ya… hihii), akhirnya saya ikhlaskan juga menginput 16 digit nomor CC saya dan data lainnya. Untungnya so far sih aman-aman sahaja.
- Saya ingin tahu seperti apa terbang bersama AA, siapa tahu lebih nyaman karena manajemen dan holding company nya AA dari negeri jiran, sehingga mungkin lebih baik. Ini sebuah asumsi yang jelek dan hendaknya jangan ditiru dengan menganggap remeh ploduk-ploduk dalam negeli.. (hihii jadi geli sendiri). Tapi gimana ya, tidak ada yang bisa memaksakan orang lain berpikir dan berasumsi. Ternyata, yang saya temui, terbang bersama AA tidak begitu berbeda dengan penerbangan yang perusahannya dimiliki olang-olang (dan bumn) sini, minimal seperti yang pernah saya terbang bersamanya yakni Garuda, Merpati, Adam Air, ataupun Lion Air. Hanya saja beda di masalah teknik reservasi dan ticketing saja. AA nyaris tidak ada tiketnya, hanya sobekan kertas kecil yang saya dapat ketika check-in. Akibatnya tidak ada nomor kursi, dan penumpang (AA menyebutnya sebagai ‘tamu’ — yang tak diundang? hihi) bebas memilih tempat duduk. Awalnya saya sedikit panik mengingat kami terbang berempat. Kalau duduknya terpencar-pencar tentu repot. Untungnya dikenakan aturan prioritas untuk memasuki pesawat, yaitu penumpang yang membawa anak kecil, terus diikuti penumpang dengan nomor urut berdasarkan urutan check-in.
- Saya mengira tiket AA murah. Ternyata sama saja mahal (menurut saya), padahal saya memesannya lebih dari 30 hari sebelum keberangkatan. Untuk sekali berangkat JKT-SBY (ngga PP) 4 seats saya dikenai tarif 1,690,600 IDR (termasuk tax).
Demikian, dan bersambung ke edisi berikutnya. Heheh ketularan engKoh..

1 comment
Setuju.. Tiket AA memang ngapusi.. yg dipromoin cuma harga dasarnya, padahal masih plus ini-itu, jadinya mirip2 aja sama maskapai laen.. *kecuali Garuda*
Leave a Comment