A space to voice thoughts and doubts of Namora.
Random header image... Refresh for more!

Category — My Life

Merdeka dan kado ultah

Pagi hari tanggal 17 Agustus, saya benar-benar merasakan ‘kemerdekaan’. Sebenarnya badan terasa capek, tapi perasaan ini terasa lega banget. Tanggal 16 malam saya baru bisa sampai rumah hampir jam 10 malam. Setelah melewati perjalanan yang melelahkan, hari itu saya menjalani sidang tesis saya, dan alhamdulillah saya dinyatakan lulus. Hal ini merupakan salah satu kado ulang tahun saya yang terindah.

Mengenai sidang itu, saya sudah menduga, Pak Tarsisius Sunaryo merupakan penguji yang patut saya perhitungkan. Pertanyaannya tajam dan saya merasakan seperti dibantai. Hhihi.. Ada satu pertanyaan yang saya pikir akan diajukan oleh Pak Tarsisius, dan ternyata memang benar. Tapi sayangnya, (karena kebiasaan jelek saya) saya skip saja belajarnya pada topik itu.

Sedangkan Prof Mulyono, seperti yang saya perhitungkan, pertanyaannya tidak begitu menyentuh ke permasalahan. Hanya mengoreksi sedikit kesalahan di format penulisan, dan … begitulah..

Setelah presentasi dan tanya jawab selesai, saya dipersilakan keluar ruangan, karena dosen penguji berdiskusi untuk menentukan hasil pengujian. Hmm, saya harus menunggu hampir setengah jam, dan benar saja terjadi diskusi yang alot (kata Pak Mul begitu, begitu saya masuk ke ruang sidang lagi). Saya sebenarnya yakin, saya pasti lulus.. (pede aja lagi…) cuma ngga tau nih dapat nilai apa, A atau B. Saya pikir, yang membuat lama diskusi tersebut, mungkin Ibu Titik sebagai dosen pembimbing saya, mencoba memperjuangkan saya. Hehehe.. tapi akhirnya saya dinyatakan lulus.

Yang jelas, sekarang mesti menyelesaikan revisi selama satu bulan, dan saya mungkin bisa merasa lebih merdeka lagi. MERDEKA!

August 18, 2006   7 Comments

Troll is in the air

KEMARIN SORE ISTRI SAYA MENERIMA SURAT PEMBERITAHUAN YANG ISINYA MENYEBUTKAN BAHWA SAYA TIDAK MELAKSANANKAN TUGAS RONDA DAN DIKENAI DENDA FINANCIAL. YA YA.. MUNGKIN ADA YANG BERKOMENTAR, “HAREE GENEE, MASIH ADA RONDA…”, TAPI BEGITULAH, DI LINGKUNGAN PERUMAHAN SAYA MEMANG ADA PROGRAM KEGIATAN RONDA KHUSUS SABTU MALAM BAGI WARGA. SETIAP WARGA (KK) MENDAPATKAN GILIRAN SEKITAR 2 BULAN SEKALI UNTUK RONDA. TUJUANNYA ADALAH UNTUK MEMPERERAT SILATURAHMI DAN MENGENAL SESAMA WARGA, DAN MEMBERI KESEMPATAN KEPADA PETUGAS SECURITY UNTUK ISTIRAHAT.

[Read more →]

August 10, 2006   6 Comments

Berbuat baik dan Tawassul

Sebelum makan siang, saya tadi ‘mengikuti’ obrolan tentang tawassul. Awalnya adalah perbincangan tentang maraknya pengobatan-pengobatan atau kegiatan yang dibungkus agama, tetapi diindikasikan sebagai syirik. Dalam Islam, syirik merupakan salah satu dosa besar, karena mempersekutukan Allah dengan sesuatu. Akibatnya hal tersebut akan mengikis rasa iman kepada Allah, karena menganggap ada ‘kekuatan’ lain selain Allah.

[Read more →]

August 1, 2006   2 Comments

Info dot info

Ketika saya mencari materi referensi untuk keperluan thesis saya, saya menjumpai ‘hal menarik’ yang sepertinya perlu saya tulis di sini. Dengan menggunakan google dan dengan mempersempit opsi pencariannya, saya menemukan beberapa alamat website yang ‘melayani’ jasa penjualan dan penyusunan skripsi. Sebenarnya beberapa waktu yang lalu saya juga pernah menemukan tidak dengan sengaja (kasusnya sama, melalui google). Tapi waktu itu hanya ada satu, yaitu skripsiku.com. Pagi ini saya menjumpai ada 3. Tentunya saya yakin bisa lebih dari itu jumlahnya, jika saya menggunakan keyword yang lain. Website itu di antaranya: skripsiekonomi.com, skripsife.com. Di website-website tersebut, terpampang jelas judul-judul skripsi yang bisa dipesan, baik dalam format hard-copy maupun soft-copy, plus biaya dan metode pembayarannya. Saya tidak tahu, mereka mendapatkan file-file skripsi dari mana. Tapi saya sangat yakin bahwa pemilik skripsi-skripsi tersebut tidak menyangka bahwa skripsinya ‘dijual’, dan pemilik skripsi tidak dimintai ijin untuk menjualnya.

Saya pribadi sangat menyesalkan dengan hal tersebut. Saya mungkin salah satu yang termasuk ke dalam kelompok yang menganggap bahwa informasi seharusnya bebas dan dapat dengan mudah diperoleh (seperti halnya udara), terutama dalam beberapa jenis informasi (dalam hal ini informasi akademik dan intelektual). Karena, saya yakin sekarang –bahkan mungkin dari dulu– semua orang sangat membutuhkan informasi. (Sebenarnya tadi saya berpikir untuk menulis, apakaha informasi itu perlu dikontrol atau tidak,.. nanti deh saya lanjutkan di bagian lain).

[Read more →]

April 21, 2006   2 Comments

Kekuatan ‘janda muda’

Hujan deras menyiram Jakarta sore ini. Sudah setengah jam lebih belum juga reda. Hmm… jalanan macet, jadi malas pergi ke kampus (padahal ada kuliah). Satu persatu SMS dan telpon masuk, menanyakan mau kuliah engga? Mereka sepertinya cuma mau meyakinkan dan menenangkan diri bahwa ternyata tidak hanya dirinya yang tidak kuliah. Intinya, cari teman bolos kuliah … hahaha.

Rasanya lebih baik ngeblog dulu sambil menunggu hujan reda dan jalanan sedikit lancar. Sedikit lancar? kenapa tidak lancar sekalian? You know lah … jakarta kapan bisa lancar jalanannya. Omong-omong tentang jalanan, pas kapan hari saya melihat sebuah grafiti di sebuah truk. Saya lupa detilnya, tapi yang masih teringat ada kata-katanya ‘janda muda’ …. Hahaha hujan gini, masih inget janda muda.

Saya waktu itu sempat berpikir ada apa dengan kata ‘janda muda’ (=jamu). Ada dua kata dasar yaitu ‘janda’ dan ‘muda’. Dua-duanya mempunyai arti tapi kalau digabung bisa menjadi sesuatu yang memberikan konotasi berbeda. Beberapa hari yang lalu saya juga sempat membaca artikel di Kompas tentang pencitraan, pembentukan citra, image oleh pikiran kita terhadap suatu hal.
Demikian pula dengan jamu tadi, ungkapan tersebut dapat memberikan citra (dan cita rasa? heheh) tersendiri. Menurut saya, Itu semua karena kedua kata tersebut kontras. Sebab pada umumnya, usia seorang janda tidaklah muda.

Menjadi sesuatu yang kontras, kadang dapat memberikan kesan tersendiri, menjadi sesuatu yang menarik, menjadi sesuatu yang mendapatkan perhatian. Seorang yang saya kenal berkisah, bahwa suatu saat, aliran listrik di suatu pabrik mati. Dan sialnya, petugas yang biasanya mengoperasikan genset tidak masuk kerja hari itu. Sampai akhirnya pimpinan pabrik turun tangan, dan mencari siapa yang dapat mengoperasikan genset. Ada satu orang yang memberanikan diri untuk mencoba mengoperasikan genset. Dan … akhirnya pabrik dapat beroperasi lagi. Orang tadi adalah sebenarnya pegawai biasa. Hanya saja karena dia sering ngobrol dengan petugas genset, akhirnya dia sedikit banyak tahu. Rupanya pimpinan pabrik terkesan akan peristiwa ini. Dalam hitungan tahun, dalam suatu kesempatan, dia membutuhkan seorang untuk supervisor. Dan akhirnya operator genset ‘dadakan’ tadilah menjadi pilihannya. Saya tidak tahu apakah kisah ini nyambung dengan ‘kontras’ tadi. Tapi saya yakin, salah satu pertimbangan pimpinan pabrik adalah berkaitan dengan peristiwa matinya listrik tadi, dan munculnya tokoh yang fenomenal serta mungkin juga kontras.

Saya juga tidak tahu, sesuatu yang kontras itu sebenarnya menguntungkan atau sebaliknya, merugikan. Kadang sesuatu memang harus kontras untuk menjadi lebih berarti, lebih greget, dan mempunyai advantage value. Dengan menjadi sesuatu yang kontras, sesuatu yang lain, dalam ilmu management mungkin dapat dikatakan memiliki competitive advantage. Kasus tadi adalah salah satu contohnya.

Sayangnya kita kadang enggan dan tidak mau untuk menjadi ‘lain’. Walaupun padahal pada hakikatnya kita semua adalah lain. Everybody is somebody else’s weirdo. Kadang kita (atau saya?) pingin menjadi yang lain. Kita ingin menjadi yang lain-lain itu, sehingga kita miskin akan identitas. Saya kadang ingin tahu ini dan itu, belajar A dan ingin tahu Z, sampai akhirnya tahunya cuma kulit-kulitnya saja. Lebih luas lagi, bangsa kita juga sepertinya mudah latah, mudah terpengaruh dan akhirnya krisis identitas (atau malah sudah dalam multi-krisis?), menjadi sesuatu yang tanggung, dan akhirnya tidak memiliki competitive advantage.

Tapi sudahlah… karena sekarang hujan sudah mulai reda. Dan kata slank, “Kamu harus pulang…”

April 13, 2006   3 Comments

The world is not enough, but Google …

“Tanya mbah google dulu.” Demikian isi dari sebuah email, dalam menanggapi sebuah pertanyaan yang ditanyakan di mailing list (milis). Memang tipikal orang bermacam-macam dalam hal mencari informasi (termasuk belajar, karena belajar pada prinsipnya mengumpulkan dan mencerna informasi). Dalam kasus di atas mungkin si penanya dalam milis memang belum mencari informasi menggunakan search engine, atau mencari via search engine tapi tidak menemukan jawaban yang diinginkan. Bisa jadi dia maunya jawaban yang lebih pas dan sudah ‘teruji’ atau applicable dari orang yang pernah memperolehnya.

Bagi saya pribadi, jika ada pertanyaan yang memang membutuhkan jawaban, saya lebih suka mencarinya terlebih dahulu via search engine (baca: google, my favourite search engine). Karena dengan itu, saya dapat memperoleh informasi yang banyak (bahkan sangat banyak), bahkan dari berbagai macam sudut pandang. Thanks to google! Bahkan google yang smart sepertinya tahu apa yang kumau (hehe.. kaya iklan aja). Sepertinya mencari apa aja kok selalu ada di google.

Masing-masing orang tentu punya pengalaman sendiri dengan google. Juga mempunyai kiat-kiat tersendiri ketika ‘ngobrol’ dengan si embah yang satu itu. Sekedar berbagi, berikut tips / kiat-kiat yang saya lakukan dalam menggunakan google.

Gunakan kata kunci (keyword) yang pas. Ya pasti lah… (standar banget ya…)

Untuk materi-materi yang spesifik yang dimungkinkan materi tersebut hanya berada di lokal (indonesia), saya sering menggunakan fasilitas advanced search, dan mempersempit hasil pencarian yang menggunakan bahasa Indonesia. Misalnya ketika saya mencoba mencari file MP3 lagu ‘dealova’, saya yakin hal ini ada diweb yang berbahasa Indonesia (diweb site luar negeri mungkin ada, tapi kecil lebih kemungkinannya). Maka saya gunakan cara di atas, dan benar juga ada sebuah forum berbahasa Indonesia (kalau ngga salah kaskus.com) yang memberikan link (url) ke website yang menyimpan file tersebut.

Carilah di ‘lemari’ yang pas. Kalau saya mencari file referensi bahan kuliah, atau journal ilmiah, saya lebih sering menemukan jawabannya di ‘lemari’ scholar. http://scholar.google.com. Yang saya maksud ‘lemari’ di sini adalah layanan google berdasarkan pengelompokan tertentu. Di situ ada pencarian berdasarkan/untuk gambar, peta, buku, groups, video, bahkan ada pencarian dengan special search. Lihat di options (http://www.google.com/intl/en/options/) untuk lebih detil.

Begitulah pengalaman saya dengan google.

March 10, 2006   1 Comment

Meredam Rasa Tersinggung

Penulis : KH Abdullah Gymnastiar

Salah satu hal yang sering membuat energi kita  terkuras adalah timbulnya rasa ketersinggungan diri. Munculnya perasaan ini sering disebabkan oleh  ketidaktahanan kita terhadap sikap orang lain.
Ketika  tersinggung, minimal kita akan sibuk membela diri dan  selanjutnya akan memikirkan kejelekan orang lain. Hal  yang paling membahayakan dari ketersinggungan adalah  habisnya amal kita.

Efek yang biasa ditimbulkan oleh  rasa tersinggung adalah kemarahan. Jika kita marah, kata-kata jadi tidak terkendali, stress meningkat, dan  lainnya. Karena itu, kegigihan kita untuk tidak  tersinggung menjadi suatu keharusan.

Apa yang menyebabkan orang tersinggung?  Ketersinggungan seseorang timbul karena menilai  dirinya lebih dari kenyataan, merasa pintar, berjasa, saleh, tampan, dan merasa sukses. Setiap kali kita  menilai diri lebih dari kenyataan bila ada yang  menilai kita kurang sedikit saja akan langsung tersinggung. Peluang tersinggung akan terbuka jika  kita salah dalam menilai diri sendiri. Karena itu, ada  sesuatu yang harus kita perbaiki, yaitu proporsional  menilai diri.

Teknik pertama agar kita tidak mudah tersinggung adalah tidak menilai lebih kepada diri
kita. Misalnya, jangan banyak mengingat-ingat bahwa  saya telah berjasa, saya seorang guru, saya seorang  pemimpin, saya ini orang yang sudah berbuat. Semakin  banyak kita mengaku-ngaku tentang diri kita, akan  membuat kita makin tersinggung. Ada beberapa cara yang  cukup efektif untuk meredam ketersinggungan. Pertama,  belajar melupakan Jika kita seorang sarjana maka lupakanlah kesarjanaan kita. Jika kita seorang  direktur lupakanlah jabatan itu. Jika kita ustadz  lupakan keustadzan kita.

Jika kita seorang pimpinan lupakanlah hal itu, dan  seterusnya. Anggap semuanya ini amanah agar kita tidak  tamak terhadap penghargaan.  Kita harus melatih diri  untuk merasa sekadar  hamba Allah yang tidak memiliki  apa-apa kecuali ilmu yang dipercikkan oleh Allah sedikit. Kita lebih  banyak  tidak tahu. Kita tidak  mempunyai  harta sedikit  pun  kecuali sepercik titipan  Allah. Kita tidak  mempunyai jabatan
ataupun kedudukan  sedikit pun kecuali sepercik yang Allah amanahkan. Dengan sikap seperti  ini  hidup kita akan lebih ringan.  Semakin kita ingin dihargai, dipuji, dan dihormati,  akan kian sering  kita  sakit hati. Kedua, kita harus  melihat bahwa apa pun yang dilakukan orang kepada kita akan bermanfaat   jika  kita dapat menyikapinya dengan  tepat. Kita tidak akan pernah rugi dengan perilaku  orang kepada kita,   jika  bisa menyikapinya dengan tepat.

Kita akan merugi apabila salah menyikapi kejadian, dan  sebenarnya kita tidak  bisa memaksa orang lain berbuat  sesuai dengan keinginan kita. Yang bisa kita lakukan adalah memaksa  diri  sendiri menyikapi orang lain  dengan sikap terbaik kita. Apa pun perkataan orang  lain kepada kita,  tentu  itu terjadi
dengan izin Allah. Anggap saja ini episode atau ujian yang harus kita  alami untuk menguji keimanan kita. ‘’Dan sungguh akan  Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit  ketakutan, kelaparan,  kekurangan harta, jiwa dan  buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada  orang-orang yang  sabar. (Yaitu) Orang-orang yang  apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan Puji Tuhan. Mereka itulah  yang  mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhannya, dan mereka  itulah orang-orang yang mendapat  petunjuk. Ketiga, kita harus berempati.

Yaitu, mulai melihat sesuatu tidak dari sisi kita.  Perhatikan kisah seseorang yang tengah menuntun gajah  dari depan dan seorang lagi mengikutinya di belakang  Gajah tersebut. Yang di  depan berkata, “Oh indah nian  pemandangan sepanjang hari”. Kontan ia dilempar dari  belakang karena  dianggap menyindir. Sebab, sepanjang perjalanan, orang yang di belakang hanya melihat  pantat gajah. Karena  itu, kita harus belajar  berempati. Jika tidak ingin mudah tersinggung, cari seribu satu alasan  untuk  bisa memaklumi orang lain.

Namun yang harus diingat, berbagai alasan yang kita  buat semata-mata  untuk memaklumi, bukan untuk  membenarkan kesalahan, sehingga kita dapat mengendalikan diri. Keempat, jadikan penghinaan orang  lain kepada kita sebagai ladang peningkatan kwalitas  diri dan kesempatan  untuk mengamalkan sifat mulia.
Yaitu, memaafkan orang yang menyakiti dan membalasnya  dengan kebaikan.

February 8, 2006   No Comments

Saya Kecewa

Sebenarnya saya ingin mengganti judul di atas, sebab saya takut kalau akhirnya akibat judul tersebut, tulisan saya berikut ini menjadi tidak bersemangat. Tapi sepertinya memang begitulah keadaannya, dan saya pikir judulnya juga cocok untuk tulisan saya ini.

Setelah sekian lama duduk, terus tiduran di depan pesawat televisi, saya tidak dapat menemukan acara yang menarik untuk ditonton. “Kok tidak ada yang mutu sih”, pikir saya. Saat itu adalah malam senin, alias Minggu malam, sekitar jam 8 malam. Benar-benar tidak ada yang bagus acaranya – menurut saya tentunya. Dari channel satu ke channel yang lain, hampir semuanya menyajikan acara Sinetron, yang temanya sama yaitu: “Hantu!”, demikian kata anak saya yang baru berumur 2,5 tahun sambil ketakutan minta ganti channel.

Belakangan ini memang sinetron “Hantu!” bergentayangan dan memenuhi saluran televisi. Yang saya maksud dengan sinetron “Hantu!” adalah sinetron misteri yang ‘berbaju’ agama dan mengambil setting cerita tentang akibat/hukuman bagi si mayat pelaku tindakan dosa. Karena ada satu sinetron yang sepertinya sukses tayang, judulnya saya lupa; “Misteri Ilahi” apa “Rahasia Ilahi”, maka stasiun tv yang lainnya mengikuti jejak misteri dan rahasia hantu, eh ilahi tersebut.

Mungkin benar, itu adalah hak stasiun tv tersebut untuk menampilkan acara semau dia asalkan tidak bertentangan dengan hukum. Mungkin benar juga bahwa, dengan pertimbangan strategi bisnis mereka menayangan sinetron “Hantu!”, bahkan dalam prime-time. Mungkin … yang ini perlu ditindaklanjuti, apakah benar atau tidak, bahwa sebagian besar masyarakat menyukai atau tidak terhadap acara tersebut. Kalau menurut survey rating mereka, tentu masyarakat menyukai. Yang perlu dicermati adalah, apakah mereka menyukai karena memang bagus, apa karena tresno jalaran soko kulino (Menyukai karena sudah terbiasa), karena harus memilih yang terbagus dari yang terjelek jelek jelek.. (jelek Lu!, hehehe).

Kalau saya si A, si aktivis, atau politikus, atau orang yang didengar suaranya… (ngga mungkin..), saya tentu akan bergumam (bunyi kentutpun, pasti akan didengar, kalau itu dari orang beken), di mana sih tanggung jawab moral mereka? Mereka itu maksudnya siapa? Ya yang punya stasiun tv, produser, tim kreatif, dll. Masa sih mereka tidak dapat membuat acara yang bagus.
Ya ya ya, saya tahu, mereka masih dalam tahap belajar ( si A lho ini yang ngomong), so strategi bisnis mereka juga masih risk averse, follower, reactor; yaitu masih mengikuti, masih latah, masih gagap dengan ide orang lain yang sukses. Dengan kata lain, daya kreativitas dan inovasinya belum dapat diperhitungkan. Sejauh ini, jarang sekali ada karya seni di televisi atau film yang ‘menggigit’ dari para insan seni. ( Walaupun terdengar kabar kalau Miles alias Mira Lesmana, producer dan Sutradara Petualangan Sherina, AADC, dan terakhir Garasi, dinominasikan untuk mendapat piala Oscar.)

Saya (nah kalo ini baru ‘suara’ saya), sering terkagum melihat karya seni, terutama film hasil karya negri orang. Dalam bagian penutup, saya selalu akan dengan sabar membaca satu persatu nama-nama orang / institusi yang turut menghasilkan hasil karya tersebut, meskipun kadang panjang sekali dan sangat komplit. Tapi kalau sinetron local, sedikit sekali nama-nama orangnya… (apa jangan2 yang membikin dan ikut main adalah ‘boneka’ atau NN ?). Kalau ditulis dengan font dengan ukuran tulisan yang ada di sini, mungkin tidak sampai setengah halaman kuarto (), yang ada malahan ucapan terima kasih… (hmm, bagus juga, masih berterima kasih), tentunya kepada sponsor, yang sebenarnya lambangnya atau produknya sudah bertebaran di sepanjang sinetron.

Mungkin itu yang membuat saya kecewa. Saya kecewa, kenapa saya tidak dapat main sinetron.. eh salah.  Kenapa, terjadi kesenjangan yang sangat jauh. Karya di negeri kita tertinggal jauh di belakang. Kalau mau digeneralisasi, sebenarnya dalam segala hal kita selalu ketinggalan (“Tanya kenapa!”  ), kecuali si-komeng dengan sepeda motornya yang diteriaki “Kepagian mas…” Mungkin benar juga bahwa ada yang bilang bahwa Tuhan telah menciptakan DNA bagi orang-orang Indonesia lebih rendah kualitasnya dalam berinovasi dibandingkan negeri lain. DNA orang Indonesia adalah DNA orang yang baru dapat “memakai”, lebih kreatif sedikit: “membajak/meniru”, instead of berkreasi. (Bener ngga?) Begitulah. Insan seni televisi kita, tidak dapat (atau sedikit sekali) memproduksi tayangan (bukan sekadar hiburan), yang bermutu. Karyanya tidak memberikan semangat bagi yang menonton untuk menjadi kreatif. Tidak memberikan inspirasi bagi penontonnya.

Terus kenapa pula, sinetron “Hantu!” tersebut temanya cenderung berupa hukuman / punishment. Apakah masyarakat kita sekarang cenderung gembira menyaksikan orang lain yang dihukum; hobi membaca dan menonton berita kriminal? Entahlah… kenapa kita (?) senang sekali memandang sesuatu dari sisi negatifnya. Bahkan merepresentasikan kebanyakan manusia berperilaku negative. Bukankah banyak sekali, minimal tidak sedikit, orang-orang baik yang ada disekitar kita, keluarga kita, teman sekantor kita, tetangga kita, pak erte kita, tukang Koran kita, … (heheh kita sendiri bagaimana..?) Menurut saya, akan lebih efektif jika dalam menyampaikan ‘pelajaran’ melalui sisi positifnya, memberikan reward, bukannya menjatuhkan punishment. Tapi entahlah kenapa, kita ‘didik’ dan ‘mendidik’, belajar dan mengajar untuk senang terhadap punishment tersebut. Itulah kenapa saya sering ‘mendidik’ Salma, anak saya kalau nakal dengan ancaman, ‘…nanti ayah cubit lho pantatnya’ (heheh kenapa mesti pantatnya ya?) Horee… saya asli orang Indonesia.

Sebenarnya, kalau saya producer acara tv, saya akan membuat acara yang bertentangan dan melawan arus dengan sinetron “Hantu!”. Kenapa? Pertama, Saya tidak suka dengan iklannya yang kadang-kadang ngagetin, tahu-tahu nongol dengan wajah menyeramkan (asli ngga sopan banged). Kedua, Sinetron tersebut benar-benar tidak mendidik. Mereka kebanyakan (atau yang sinetron pioneer nya), mengklaim isi ceritanya berdasarkan kisah nyata. Mau mematahkan argument mereka? Gampang saja. Nah, sekarang kan demikian banyaknya kejahatan di negeri ini. Ada tindakan korupsi, durhaka kepada orang tua, ‘menyikat’ atau memanipulasi dan sejenisnya terhadap harta untuk amal, anak yatim; pemimpin yang ingkar, dsb. Tapi tidak ada berita di Koran atau di tv, ada mayat yang ditolak oleh bumi, yang mengeluarkan cairan hitam, pokoknya yang serem2 seperti di cerita mereka. Ketiga, acaranya tidak memberikan inspirasi dan mendorong penontonnya untuk menjadi lebih baik. Bagi kebanyakan orang, acara tersebut hanyalah sekedar hiburan, atau lucu-lucuan belaka.

Coba kalau sinetron tersebut isinya tentang orang yang berbuat baik. Tentunya ini juga dari kisah yang nyata, atau setidaknya tidak norak seperti reality show “Toloong”; Pasti akan lebih menarik, jika digambarkan once upon a time, di suatu tempat ada orang yang berbuat baik dan tidak mengharapkan sesuatu atas perbuatan itu. Tapi ternyata perbuatannya tersebut memberikan kebaikan bagi yang lain dan dia mendapat ‘hadiah’ (boleh materi, cinta, atau yang lain) akibat perbuatannya tersebut. Tidak usahlah dibungkus nuansa agama, murni kemanusiaan, pasti akan sangat menarik ceritanya dan memotivasi penonton (dan negeri ini) untuk menjadi lebih baik. Sekali lagi: masih banyak hal-hal dan orang-orang baik di negeri ini. Dan bukankah semuanya akan lebih senang kalau pada akhirnya ‘happy ending’ ?

January 17, 2006   5 Comments

Belum diberi judul

Tadi pagi saya sudah punya aktivitas yang padat. Dimulai dari jam 05.30, harus mengantar Fenti Utari, adikku untuk datang di Bank Indonesia (BI). Dia salah satu yang beruntung diterima sebagai karyawan BI, dan hari ini mengikuti pembukaan pelatihan yang akan dibuka oleh Gubernur BI (yang kata dia lulusan IPB=Institut Perbankan Bogor?). As usual, pagi hari, Jakarta Macet. Sudah gitu saya mesti balik lagi ke ex-kantor yang dulu untuk ambil surat referensi kerja (ngga enak ditagih terus sama HR di sini). Hmm ..melelahkan.

Jam 10, sudah tiba di ex-kantor, ketemu sama Riche. Ternyata ada juga Bapak2 (kok saya ngga kenal ya) yang menemui Riche ngurus administrasi. Mau resign juga ternyata. Sambil nungguin dia, saya berpikir, sepertinya setiap saya mau ketemu dia, ada saja yang mau resign. Sementara di bagian meja yang lain, saya lihat setumpuk berkas lamaran kerja yang dilabeli ‘Belum diinput’. Entah apa maksudnya. Apa ngga bosan ya kerja gituan, pikirku.

Besuk lagi deh diupdate, udah mau pulang nih…

New update:
Bagi beberapa orang setelah mencapai sekian waktu perjalanan hidupnya, mungkin hari-hari yang dijalani sekedar ‘pengulangan’ dari hari-hari sebelumnya. Maksudnya aktivitas yang dia kerjakan sekarang merupakan kustomisasi aktivitas yang pernah dia kerjakan, hanya saja ’sedikit’ beda; tetapi esensinya kurang lebih sama. Kecuali ada revolusi, transformasi, promosi atau apalah namanya (:transisi?), menurut saya itu hanyalah ‘penyimpangan’ dari standar aktivitas yang seharusnya.
Membingungkan ya..? Saya sendiri juga bingung kok. Kapan2 saya mesti tambahkan penjelasan yang lebih jelas lagi, plus contoh dan deskripsinya.

January 11, 2006   No Comments

Farewell

Kemarin (di tempat kerja yang baru), saya melakukan restore data-data pekerjaaan saya, termasuk juga arsip email saya. Setelah berhasil direstore, iseng-iseng saya baca email tersebut (sembari nostalgia :) . Ternyata banyak sekali email yang berisi farewell / resignation from the company.

Berikut saya copy-paste isi email tsb. Bagi rekan2 di ex-office, kalo ada yg keberatan dan dg isi posting ini, pls let me know. Saya akan remove content farewell rekan2, sekiranya tidak berkenan.

Dear colleagues,

After 4.5 (four and a half) years with ******** Consulting, I am finally off to further my study overseas.

To management team: I thank you for your guidance during my time at *******.

To consulting team: I appreciate having the opportunity to work with you.

To all: I thank you for your support and friendship. Wishing you success in 2006.

Please keep in touch, I can be reached at my personal email address (see below). Thanks again for everything.

Before leaving, I would like to share something which I’ve read a long time ago and still inspire me. I hope it will inspire you too.

So, till we meet again …

Yours truly,

email: xxxxxx@yahoo.com.au

“In spite of illness, in spite even of the archenemy sorrow, one can remain alive long past the usual date of disintegration if one is unafraid of change, insatiable in intellectual curiosity, interested in big things, and happy in small ways.” — Edith Wharton

One of the keys to success is staying motivated because it is being motivated that keeps us going out the door every day to change the world and reach our destiny! It is our desire for a better life, for change in us and others, and for personal growth and fulfillment that moves our mountains! Desire!

Desire sure is a word with much more richness to it than the word “want” though they are essentially the same. “Want,” though, sounds like you could take it or leave it. “Desire” says, “I have to have it!” Desire, is “want” with a fire under it!

Unfortunately, we tend to ebb and flow from want to desire, even with the same goal! One day we may be passionate about building our business or growing our relationships and then, the next day, we find ourselves simply in the “want” camp again. The key to keeping on is to re-light the fire under want so it roars into a raging fire of desire! Then, and only then, will we see the passion needed to be tenacious pursuers of our dreams! Keeping the fire lit is what will see you through the mountains and valleys of life and the journey you are on to your success!

So what do we do? We light the fire! Here are a few thoughts to help you build the fire of your desire!

The wood:
Keep a clear mental picture of the goal. This is imperative. The picture of the goal is like the wood in a fire. It is the raw material. Know what your goal is and what it looks like.

The fuel:
Keep a list, if simply just a mental one, of all of the benefits of pursuing and reaching your goal. Make them as “sense” oriented as possible. “See” the benefits. “Hear” them. “Touch” them. This is like the fuel that we add to a fire to get it going. Now all we need is a match.

The match:
Keep yourself active! This is the match: Action! Even when you don’t feel like it, get yourself to act and soon you will see the fire burning because you have again ignited the dream! The more desire you have the more the fire burns.

Eventually the fire will begin to die out. Here is where you throw the wood on again, pour on some fuel, and if need be, strike another match. I would encourage you to not let the fire go out though, because it is easier to continually throw wood and fuel on an already burning fire than it is to start one up again!

source: PUT SOME FIRE IN YOUR DESIRE by Chris Widener

Dear All,

I feel that the time is running too fast, 4.5 years has pass. Feels as if it was my first time entering ***** and involved in the fast pace and challenging environment.

And at the final, I have to move on to another part of my life.

I would like to say special thanks to all of you for your friendship, guidance and cooperation. It’s been nice working with all of you.

Please forgive me if any mistake/s that I have done during my services directly or not.

I wish the best for *****, and all of us for the future and always keep contact.

Best regards,

To *****ians,

Today is my last effective day in *****. Over the years in *****, I have crossed path with many challenging projects, solid team, and outstanding professionals who left mark on myself.

Therefore, I wish to take this opportunity to thank all opportunities, teamwork, and friendship granted to me. I have to thank:
- Pak Matthew, Pak Ivan, Pak Edwin, and Pak Halim for the continuous guidance and courage during the projects.
- ***** Development Team for the giving me a lot of opportunities to work together and to participate in designing and building challenging applications.
- ***** Consulting Team for giving me giving me so much insight, thoughtful discussion, diversity of knowledge, and most importantly to be part of your excellent team.
- All ***** Staff for all your countless support, cooperation, and commitment.

Finally, I’d like to apologize If I did or said anything wrong during my tenure in *****. I hope that I have the opportunity to work together with you in the future.

All the best,

Dear All,

Last Friday (October 1st, 2004) was my last day at ***** (although officially I am resigning as per October 15th, 2004).

There were lots of memories that I have had during my employment in *****, the good things as well as the bad ones. I am sure all of those experiences will enriched my life and build me to be a better person.

Thanks to P’ Dicky and P’ Karib who have entrusted me to lead the implementation team installing BankVision at Bank Akita (and I am sorry that I could not finish it). Both of you have become my mentor for leadership.

Thanks to P’ Amul who also become my mentor, my friend, and my ex-manager. You always encourage me to be brave, trust my heart, and fight for something right.

Thanks to P’ Roy who for the past several months has become my manager and understanding my situation when I have to make this decision.

Thanks to P’ Surya who even though never be my direct manager, but always be there for me when I need him (especially when I face a problem with BankVision.. :p). You are always being the nicest guy in our group. Humble and close to your sub-ordinate are some the good things that I will always remember from you.

To all my teammate and co-worker, Ui, Chandra, Tina, Tajudin, Lely, Vera, Suli, Lea, Yoki, Fio, Mei, and Lippo’s group, DKI’s implementation team, thanks for being a good co-worker and friends to me. Lots of you have become my mentors too in learning BankVision software.

For all of the others, Imel, Idi, Linda, Carrey, Cahyadi, Vera Puspa, Achmad, P’ Bambang, Luke, Dimas, Susi, Mbak Cia, Harley, Alim, and those who I cannot mention one by one, thanks for letting me being part of ***** family.

Last but not least, I wish all the best for you and I apologize if somehow I made a mistake intentionally or unintentionally.

I hope that someday our path will cross and we could work together again.

Sincerely Yours,

Dear friends & colleagues,

I don’t know how to begin to express my appreciation for you. I don’t want to say goodbye but I just want you to know that I’m glad we met. You’ve brought me much happiness, laughters and joys.

Today is my last day in *****, but it doesn’t mean the end of our friendship. You are my friends forever. I am looking forward to keeping in touch with you all.
I just couldn’t mention the name one by one but, thanks to all for your friendship, guidance, critic, and advice for the past years.

Please forgive all my mistakes I had ever made during my employment here in *****. And wish you all the best in upcoming years.

Best regards,

Dear All,

Let me take this opportunity to drop a short note to say thanks
for all opportunities, guidance and supports given to me through
the years working in *****.

If by now I’m leaving, it’s not really an easy decision to make.
The moment passed here with so many wonderful friends and
cooperative colleagues is so impressive and unforgettable to me.
But, I believe that we can still meet each other around.

I wish all of you and also ***** a continued success.

Best Regards,

Dear All,

Let me take this opportunity to drop a short note to say thanks for all opportunities, guidance and supports given to me through
the years working in *****.

If by now I’m leaving, it’s not really an easy decision to make. The moment passed here with so many wonderful friends and cooperative colleagues is so impressive and unforgettable to me. But, I believe that we can still meet each other around.

I wish all of you and ***** a continued success.

Best Regards,

Dear All my friends in *****,

I would like to say “thank you” for every single one of you who supports me every single day, I still remember my first day in ***** as a fresh graduate in August 2001, and all this time I have learned a lot from so many great people in *****, and did not we go through happiness and sadness together? and “thank you” for just simply being my friend… friends don’t say “good bye”…

So I’m just going to say “See You Later My Friends…”

All the best Wishes from you friend,

Dear colleagues,

February 15th, 2003 is my last day in *****, I have spent 3.5 years working with you and its hard time for me to make this decision but I should move on to build my own future and pursuing my career in another stage of work life.

Thank you for the opportunity working with you, especially to be part of FIBU - ASD - API - ISSU team that give me a lot of valuable experiences in developing my career.

Many thanks to Pak Jip Ivan and Achmad Fachrudin for your leadership and kind guidance, also for Carrey, thanks for your help and support as my good partner all this time.

Last but not least, I would like to say thank you very much to Pak Handoyo for all your support and kindness.

And for so many people that I could not mention one by one.

Frankly, it’s been enjoyable for me to working with people like you.

I also would like to apologize for all my mistakes that I’ve made during my services in ***** directly or indirectly.

Once again, Thanks to all of you, I wish you all the best of luck and prosperity in many years to come and I look forward to cooperate with you again in the future, in any occasions.

Best regards,

Dear all,
At this occasion, I would like to inform you that effective today, I will be resign from PT ***** Corporation Tbk.
Lots of thanks for all your support, cooperation and friendship during my employment here.
It’s been a pleasure and an honor for me to join you in *****.
The experience I gained, the friends I made and the opportunity for me to make contributions to the organization as a whole are trully something worth cherishing.
Eventhough, we won’t be together again, I sincerely hope that our relationship continues.
And now it’s time for me to continue my way …
I wish you all the best of luck and prosperity in many years to come.

keep in touch,

Dear all,

I want to take this opportunity to thank you for your friendship and support over the past several years. During my fife and a half (5,5) years tenure with ***** Corporation, I have worked with many wonderful proffesionals and learned many things: friendship, love, solidarity, teamwork that have helped me to be a better person.

I now think it is time for me to move on to a new segment of my life. I have a baby to take care of and need more attention.

Again, thank you for everything that you have afforded me and please forgive my mistakes. ***** will always have a very special place in my heart.

Sincerely,

Dear friends and colleagues,
after more than five years working in *****, it is time for me to move on. It is not and easy decision because I have great friends and colleagues like all of you.

Today is my last day in ***** and I want to say thanks to Pak Dicky, Pak Karib, Pak Roy, Pak Surya and Pak Amul for their support and leadership.

I also want to say thanks to Pak Handoyo, Pak Andreas, Pak Jip Ivan, Lea, Ui, Arief, and Tato for their support and guidance especially in my early employment in *****.

For Lippo Team; Agung, Dicky, and Teguh, thank you because I have a great time working with you guys, and I learn a lot from you.

For BankVision team and all my friends, thank you for your support and friendship. I believe this is not the end of our friendship, and I look forward to see you at any time and any place.

I also want to apologize for every wrongdoings I’ve made during my employment in *****.

Finally, I wish you all good luck and prosperity in many years to come.

Best regards,

Dear Colleague,

Today is my last day in a lovely company named *****. I can’t tell you all, how much I enjoy my working relationship with all good friends like you in the last 3 year and 2 month. I’m proud to be member of the big happy ***** family. It’s only that I’ve to take another challenge in another place.

As I’m still in IT community, I’m sure we will meet again soon, and I’m looking forward to work together again with you. Please accept my sincere apology if I made mistake during my employment in *****. Believe me, if any, it was unintentional.

Thank you for all your support. I wish you all and ***** all the best in 2005 and beyond.

Take care.

Best regards,

Dear all,

Selama dua setengah tahun terakhir, saya always paling sedih kalau terima email bertajuk “My last day” atau “Thank you” atau “See u my friend”… di mana kata2nya dimulai dgn “Dear all, today is my last day in ….”. Kok, mesti ada yang pergi yah ? Demikian tanya saya dalam hati waktu kecil. Tapi sejenak dua jenak kemudian, kesadaran muncul….. itulah hidup, ada pertemuan tentu ada perpisahan. Pokoknya ada waktu untuk apa pun juga di atas tanah yang kita pijak ini. Pertemuan biasanya selalu gembira dan perpisahan selalu (eh..tidak pasti ‘deng) diikuti makan-makan.. : )

Akhirnya…. tak diduga tak dinyana… kali ini terpaksa sayalah yang harus menuliskan email untuk pamit pada rekan2 sekalian yang kurindukan (duilleee…. lagi nyontek novel George Bernard Shaw nih…). Di dalam email ini, dgn tulus hati …. sambil bersimbah air mata di dahi dan di lutut (mana bisa tuh?) saya mengucapkan terima kasih atas dukungan semuanya selama saya berada di *****. Dua setengah taon berlalu dan tanpa terasa saya sudah lebih tue dua stengah taon… rekan2 juga tentu saja…. cuma, hubungannya apa yah ??? Maksud saya, selama dua stengah taon ini, tanpa terasa banyak kenangan memilukan yang terekam dalam memory ini… heheh misalnya : kekalahan tim basket ***** dari tim Bank Niaga, padahal tim kita kalo KTP nya dirata2in … paling juga 26; sementara kalo Bank Niaga dirata2in…. bisa dobel tuh omzetnya…

Tapi yg memilukan hanyalah dikkiittt dibanding yang membanggakan. Yang membanggakan selama bekerja di ***** adalah banyak nian tak ke’itung. Contohnye ? Saya pernah ditilang the police, trus polis itu nanya “Kerja di Karawaci di pabrik mana, Dek?” (pura2 akrab nih) Saya jawab “Bukan di pabrik Oom, tapi di *****, perusahaan komputer”….. trus bapak itu lalu ngebales “Pinterrr donk Adek ini”…. Hhehehe…bangga juga sih dibilang pingter…walo buntut2nya tetep aja ditilang.

Nah… sperti pepatah di atas… tiada ubi tiada talas (hehhe..priba’asa baru nih…) yang artinya : kalo ubinya udah habis, biasanya talasnya juga ikut abis, kata penjual es. Maksud gue… perpisahan adalah natural di mana pun kita berada. Sedih memang meninggalkan ***** dgn segala kenangannya. Tapi itulah… kudu mo bilang ape…? Bagi saya, ***** tetep perusahaan IT terbesar di mana bisnis nya menjangkau dari ujung sono sampe ujung sini, dari atas sini sampe bawah sono [maksudnya ***** sekarang lagi di atas nih…. :) ]. So…banggalah rekan2 semua yang di *****….

“Din, lu lagi ngetik novel yah?” begitu pertanyaan seorang rekan yg baru melintas di meja saya. “Ya..amplop…bener juga. Saya kan bukan lagi nulis novel…. tapi nulis farewell email…” Oleh sebab itu, kubawa kesadaran kembali ke format SMTP dan segra bersiap menyudahi riwayat email ini dgn berterima kasih kepada seluruh pihak yang telah berjasa memberi pondasi bagi karir saya…

So…Let me convey my special gratitude to : Pak Handoyo (he is the man behind my existence in ***** and he taught me a priceless lesson about working in IT environment), Pak Halim (for the wealth IT knowledge that shared to me), Pak Rene (my boss in ESP-BU that has also shared the abundance of marketing and sales realm), Indrajit (a friend that very generous in pouring his IT know-how during my time in Comm E… ), Hendra Halim (he is my first teacher in ***** when I sat next to him and in every 5 minutes bothered with “Hen, do u know about …. ?”) and …. ok, surely there is still a number of people that really have conveyed their good influence and knowledge on me… but if I mention them all, I guarantee, you will not read the next paragraph. To them; I just want to say Thank You… it’s impossible to throw away the good memories about you all.

And now, the very sad moment is coming…. is to say SEE YOU to you all (I don’t like say goodbye… I prefer SEE YOU). Hopefully, we still have a close relationship during the days after. Pls keep my contact : xxxxxx@cbn.net.id, I’m waiting for your email.

Thanks and see you again……

Dear All,

Today is my last day in here. And I want to take this opportunity to say thank you to all of you. Over the year I have worked and so many of knowledge and experience I got from here. I hope useful for my carrier in the future.

Especially for my team, so much fun, laughter and moments we have shared together. And I really appreciated for the kindness and support that you gave to me. I couldn’t have done it without you. You were there each step of the way. Your friendship means so much more to me, than more words can ever say. Although this is nothing fancy, the sentiment is true. From the very bottom of my heart, I will just say…Thank You.

Please accept my apologized for convenience or inconvenient I ever do as long as I worked in here.

We say good-bye now but with a wish too see all of you again. You are all good friends to me and I grateful for you. I hope will meet you in another occasion. Thank you.

Regards,

Dear All,

Today is my last day at *****…
I’ve spent 2 years working here and it is a very hard decision for me to leave *****.

I don’t know how to express my appreciation for all of you…
I just want you to know that I’m glad we met, you’ve brought me much happiness, laughters and joys.
Thank you for the opportunity of working at *****, especially to be part of BankVision Developer Team.
Lots of thanks for all your support and cooperation, it’s been a great pleasure working with you.

Please forgive all mistakes I’ve made during my services in *****, directly or indirectly,
hope we can still keep in touch in the future
I wish all the best for ***** and for all the member………
Once again, thanks for everything……..and keep in touch……..

“ As long as we have memories
yesterday remains…
As long as we have hope
tomorrow awaits…
As long as we have friendship
Each day is never a waste… “

You’re my friends forever… God Bless You !!

Best regards,

And.. the last is my farewell letter: :)

Dear all,

I wanted to take a moment to let you know that I am resigning from *********, effective December 30, 2005.
I have enjoyed my tenure here and appreciate having the opportunity to work with you.

I would like to say many thanks to my managers for the support, guidance, and encouragement you have provided to me during my time at *********. Thank you for the opportunities, for professional and personal development that you have provided me during the last five years. Also for my team, my colleagues, thanks for the great supports and friendships.

I deeply appologize for my mistakes I have made during my employment at *********.

Even though I will miss all of you and the company, I am looking forward to starting a new phase of my career.

Finally, Happy new year to all of you. Wishing you and the company a prosperous New Year 2006.

Please keep in touch, I can be reached at my email address (namora_id@yahoo.com) or at cellular phone, 0818-792XXX.

Thanks again for everything

Thats all!

January 4, 2006   No Comments