Berbuat baik dan Tawassul

Sebelum makan siang, saya tadi ‘mengikuti’ obrolan tentang tawassul. Awalnya adalah perbincangan tentang maraknya pengobatan-pengobatan atau kegiatan yang dibungkus agama, tetapi diindikasikan sebagai syirik. Dalam Islam, syirik merupakan salah satu dosa besar, karena mempersekutukan Allah dengan sesuatu. Akibatnya hal tersebut akan mengikis rasa iman kepada Allah, karena menganggap ada ‘kekuatan’ lain selain Allah.


Pengertian tawassul, sepengetahuan saya, adalah memohon sesuatu (berdoa) kepada Allah dengan melalui (bantuan) perantara. Dengan bantuan Google (tawassul bukan nih? hehhe) saya temukan definisi yang lengkap mengenai tawassul. Sekitar 14 tahun yang lalu (wuih… sudah lama ya), dalam sebuah pengajian di Masjid Wonodri Semarang, saya ingat bahwa ada beberapa jenis objek (?) atau media yang dijadikan tawassul. Kita diperbolehkan tawassul melalui orang-orang yang suci, asalkan orang tersebut masih hidup. Hal ini mungkin dapat dimaklumi dan kita percaya bahwa orang yang shaleh itu lebih dekat dengan Allah sehingga mungkin lebih mudah dikabulkan doanya. Tetapi jika orang shaleh tersebut sudah meninggal, tentu hal tersebut dilarang. Dan saya pikir hal tersebut logis, serta tidak perlu dijabarkan lebih lanjut. Repotnya kadang ada yang menganggap orang suci (wali) tersebut tidak meninggal, melainkan hidup di tempat lain. Jadi jasadnya meninggal, tapi ruhnya (?) masih hidup, meski berbeda dengan dunia kita. (pusing juga sih mikirnya…)

Masih dari ustadz di pengajian tersebut (wah saya lupa nama ustadznya, semoga beliau diridhai Allah), media tawassul lainnya yang diperbolehkan adalah ber-tawassul atas perbuatan-perbuatan baik yang pernah kita perbuat. Artinya, sambil berdo’a mengharapkan sesuatu, kita sebutkan juga perbuatan-perbuatan baik kita. Mungkin ada yang pernah mendengar kisah sekumpulan pemuda yang terjebak di dalam gua?

Terus terang saya mempunyai pengalaman spiritual (hehehe kayak paranormal…) dengan hal tawassul tersebut. Kejadiannya mungkin sekitar belasan tahun yang lalu, ketika saya menjemput adik saya yang paling kecil, pulang dari TPA (Taman Pendidikan Al-Qur’an), yang berjarak sekitar 2-3 km dari rumah. Waktu itu hujan sangat deras, dan saya dalam perjalanan menjemput menggunakan sepeda motor. Tanpa sengaja, saya berdoa meminta agar hujan dihentikan barang sejenak, dan tidak tahu kenapa saya juga ber-tawassul dalam do’a tersebut. Narasinya mungkin kurang lebih, Ya Allah jika perbuatan-perbuatan (saya sebutkan hal-hal baik yang pernah saya perbuat…) ini, itu, dst, engkau ridhoi, maka tolong hentikan hujan ini sebentar karena saya harus menjemput adik saya. Saya tidak tahu apakah karena kebetulan atau karunia Allah, hujan yang tadinya sangat deras, berhenti dengan seketika . Dan hujan lagi begitu urusan saya selesai. (Terus terang saya merinding kalau mengingatnya..)

Kalau memang doa saya tersebut dikabulkan waktu itu, sebenarnya (setelah saya pikir2) hal itu didukung oleh kondisi kejiwaan saya yang masih relatif bersih waktu itu (Tapi sekarang? ohh tidaaaak…). Mungkin benar juga anjuran untuk berkumpul dengan orang-orang shaleh. Sekitar sebulan sebelum kejadian itu, saya kebetulan ikut pesantren kilat dalam rangka mengisi liburan semester, bersama mahasiswa-mahasiswa Jogja. Pesantren itu berlokasi di Payaman, Magelang, dan dinamakan pesantren terbang. (Masih ada ngga ya program tersebut). Dinamakan ‘terbang’, karena santri-santrinyalah yang datang dari satu ustadz (kyai) ke kyai yang lain. Selesai dari kegiatan tersebut, saya benar-benar merasa bersih (as I have never before), tidak seperti sekarang.. huhuhu.

Moral yang saya dapat, setidaknya ada tiga hal :

  1. Yang pertama : Kita memang dianjurkan untuk selalu berbuat baik.
  2. Yang kedua : Selalu bersungguh-sungguh dalam melakukan sesuatu, even dalam berdoa.
  3. Yang ketiga : Berkumpullah dgn orang shaleh (ini asli dari lagunya opik, heheh)

3 comments

  1. bertawssul bisa juga dengan bersholawat. Karena Allah dan para malaikat pun bershalawat. Maka mulialah Rasullah dan orang2 yang menjalankan sunnah-nya

    Semoga kita salah satu diantaranya

  2. tawassul dengan orang soleh yang telah meninggal hukumnya boleh sebagaimana kita bertawassul dengan orang soleh yang masih hidup. karena sejatinya mereka masih hidup dalam karunia allah swt.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *