Informasi (lagi)

Melanjutkan tentang tulisan saya sebelumnya, tulisan ini masih tentang informasi. Semua orang membutuhkan informasi. Informasi yang dia dapatkan, selanjutnya dicerna, dianalisis, dan kemudian diinterpretasikan sehingga memiliki arti. Berpedoman dari hal tersebut, biasanya orang yang rasional akan melanjutkannya untuk melakukan aksi. Ups.. sebenarnya semua orang sudah tahu akan hal ini. Sepertinya tidak hanya orang yang meng-capture informasi yang ada di sekelilingnya. Konon, airpun dapat merekam informasi dari hal-hal yang ada di sekelilingnya. Air merespons Informasi yang ‘baik’ dengan memberikan efek yang berbeda dengan informasi yang ‘tidak baik’.


Menurut saya, informasi jugalah yang menjadi salah satu unsur pembangun budaya, kebiasaan atau tabiat umum suatu kumpulan masyarakat. Beberapa kali saya menemukan ada bekas ludah dipojokan suatu lift di tempat kerja saya. Bagi sebagian orang (semoga sebagian besar…), meludah di lift merupakan perbuatan yang tidak benar dan tidak terpuji. Tapi bagaimana dengan pandangan sipeludah? Kalau hal itu (meludah) memang dilakukan bukan karena terpaksa, pasti karena dia selama ini menerima informasi yang salah dan akhirnya membentuk kebiasaan yang juga salah.

Namun tidak jarang pula, di era informasi ini, informasi menjadi sebuah komoditas (Hi Roy). Hal ini terutama terlihat sekali untuk informasi yang sangat penting, misalnya di pasar saham. Dalam pasar yang sempurna, semua yang terlibat di pasar memiliki kemudahan akses terhadap informasi, sehingga tidak didapatkan informasi yang bias, misalnya tentang harga.

Mungkin karena informasi pulalah yang menyebabkan orang menjadi aware (translate please…) terhadap sesuatu. Mungkin benar apa yang dikandung dalam pepatah, “Tak kenal maka tak sayang”

(Sebenarnya tulisan ini belum selesai…)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *