Kekuatan Tawasul

Para pahlawan super

Maaf kalau gambarnya sedikit tidak nyambung. Mungkin di akhir tulisan ini dicoba disambungkan. 🙂

Hari ini adalah hari ketiga di Ramadhan 1422 H. Ternyata sudah lama saya tidak mengupdate atau menulis di blog ini. Sebelum memulai kegiatan WFH, belakangan ini saya sempatkan untuk sekedar merefleksi segala hal pada diri saya, sebelum kesibukan sebenarnya hadir, berjuang menunaikan tugas WFH.

Baru saja saya teringat masa lalu saya ketika kuliah di Semarang. Di bulan puasa di tahun awal 90-an*, saya bersama anak kuliah lain dari kampus di Jogja, mengadakan program pesantren kilat. Kami menyebutnya “pesantren terbang”, yang secara harafiahnya, seperti burung yang menclok sana-sini mencari rezeki. *ketauan ketuaan umur

Kehidupan di Pesantren

Demikian pula kami, penuh jadwalnya dengan mengunjungi, menclok, sowan dan mengaji ke rumah para kyai yang kebetulan lokasi atau rumahnya juga di lingkungan pesantren; dekat, satu dengan lainnya.

Tentu banyak ilmu, hikmah, dan pengalaman berharga yang dapat kami peroleh. Para mahasiswa dari kampus dengan pendidikan formal, lalu tinggal 2 minggu (kalau tidak salah) di lingkungan sebuah pesantren (di Payaman, Magelang) — betapa kontras. Agak gagap mengikuti pola kehidupan di pesantren.

Pondok kami hanya beberapa langkah dari masjid, sebagai sentral kegiatan kami ketika tidak dalam jadwal terbang ke rumah kyai. Kami beradaptasi selayaknya santri, meskipun kami cuma santri-like, santri dadakan; kami diwajibkan untuk bangun tengah malam, beribadah sholat malam dan ibadah lainnya, seperti membaca dan menghafal beberapa doa, wirid, atau ayat Al-Quran.

Jadwal kami padat sekali. Bangun (malam/pagi) lebih awal, lanjut sholat subuh, istirahat sebentar, lalu bersih-bersih, mencuci pakaian, dst. Untungnya untuk urusan makanan, sudah ada yang menyediakan, jadi cukup membantu mengurangi kesibukan kami. Alhasil, ketika mengikuti kajian pagi hari banyak sayapun mengantuk. Kenyang dan tentram rasanya, haha kebiasaan!

Intronya terlalu panjang ya…

Intinya bahwa memang segala sesuatu selalu dilengkapi dengan kejutan atau hal-hal baru. Saya bersyukur dapat melewati itu semua, untuk selalu belajar, belajar lagi dan mengambil hikmah. Tinggal di pesantren juga memberikan view baru dalam khasanah Islam, melengkapi view saya sebagai anak dari bapak saya yang kebetulan sebagai Pimpinan Ranting Muhammadiyah, di desa kami. Menjadikan saya lebih tahu, bagaimana kehidupan di pesantren.

Berada di Frekuensi yang Bagus

Dengan tiap hari mendapatkan pencerahan dari para kyai di pesantren (semoga Allah SWT meridhoi beliau-beliau), jiwa kamipun seperti ikut tercerahkan. Bagi saya pribadi, mungkin saat itulah di mana tingkat keimanan dan aspek religius saya dalam kondisi yang prima. Saya merasa lebih dekat yang maha segalanya, Tuhan semesta alam — yang mengatur segala isi kehidupan.

Kami, atau saya, setidaknya merasa berada di ‘frekuensi’ yang dekat, dengan sinyal yang bagus (setidaknya 4G atau LTE), sehingga ketika berdoa lebih sering nyangkutnya, dikabulkan.

Kalaupun tidak (atau belum) dikabulkan, sayapun langsung sadar diri. Fine, memang belum cocok nih, belum pantas bagi saya, begitu kata hati saya.

Ada kejadian yang sampai sekarang masih saya ingat dalam hal berdoa. Bisa jadi mungkin saya ‘memaksa’, tapi mungkin saya sekedar panik atau refleks dalam berdoa, namun sepertinya dikabulkan.

Yakni ketika saya menjemput adik paling bungsu, pulang dari sekolah di TPQ, di tengah perjalanan tiba-tiba turun hujan deras. Saya yang tidak siap dan takut adik saya kebasahan, tiba-tiba dalam hati berdoa memohon agar hujan berhenti barang sejenak. Entah mengapa saya sambil menyebut segala ‘kebaikan’ saya (kalau itu dianggap sebagai kebaikan), sebagai salah satu alasan kenapa doa saya menjadi layak dikabulkan. Alhasil, hujan benar-benar berhenti.

Saya merinding, seakan tidak percaya bahwa doa saya dikabulkan. Saya pikir itu sebuah contoh kekuatan tawasul dengan atau atas hal-hal baik. Meskipun saya tidak begitu yakin kalau hal itu dapat disamakan dengan bertawasul; sebagaimana (belakangan ini) saya juga tidak yakin, kalau hujan saat itu berhenti atas sebab doa saya semata.

Dalam pemahaman saya yang dhaif ini, tawasul dapat berarti pula sebagai upaya menuju atau mendapatkan sesuatu dengan menggunakan (media) perantara. Ada proxy yang menghubungkan dengan kondisi sebenarnya.

Gambar di atas, yang saya ambil dari tweet mas Lantip, cukup menginspirasi saya pagi ini. Bahwa pahlawan super-pun butuh kekuatan lain untuk menjadi lebih digdaya (walaupun itu gambarnya satire dan buat lucu-lucuan). Tapi memang tidak salah, bahwa kita tidak harus menjadi mumpuni dalam banyak hal. Yang tidak boleh dilupakan adalah agar selalu berbuat positif, dan mumpuni untuk dapat satu frekuensi dengan mereka yang juga mumpuni.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *