Laron

Kita semua tahu, laron itu termasuk binatang yang seperti apa. Mereka

beterbangan dan kadang berkumpul mendekati sumber cahaya. Mungkin bagi mereka, cahaya adalah sebagai sarana untuk tempat bertemu. Atau bahkan bisa jadi sebenarnya mereka terjebak dan tidak dapat lepas dari cahaya. Cahaya lampu penerangan, misalnya.

(Gambar diambil dari: Mojok.co)

Jika rumah semakin dipenuhi oleh sekawanan rawon, eh laron dan emak2nya, maka hal yang tepat adalah segera mematikan lampu atau sumber cahaya. Cara itu biasanya efektif mengusir mereka. Karena mereka akan bubar jalan –keluar rumah– berpindah ke tempat yang lebih bercahaya.

Laron memberikan kita keyakinan, bahwa semua makhluk akan terdorong untuk melakukan aktifitas yang hasilnya adalah memenuhi kebutuhan dasar hidupnya. Tentu terlalu obviously (kayak anak Jaksel bilang) bahwa insting, potensi dan fitrah tiap-tiap makhluk menjadikannya dia berinteraksi atau memberikan response yang berbeda-beda. Dalam hal ini sangatlah sulit rasanya untuk mengelak atau mengingkari sikap dasarnya.

Dalam satuan makhluk yang paling kecil, yaitu individu, terutama manusia, pun berbeda-beda dalam  mereka berpikir, berpendapat, bersikap, dan berbuat. Aturan memang ada, tapi dia dibuat untuk apa yang kita tahu semua, yaitu untuk dilanggar.

Nah, sekarang ini jamannya copras-capres; pendukung2 atau fanboys dari masing2 pihak capres/cawapres pun demikian. Mereka memiliki kriteria pilihan, bahkan jalan pikiran dan pendapat yang berbeda sampai dengan 360 derajat satu sama lain. Karena apa? Karena mereka sudah memiliki ingredient, fitrah yang spesial dalam pribadi masing-masing.

Mereka memilih jalan cintanya kepada junjungan (Capres) masing2, dan tidak ada yang mampu mempengaruhinya. Bagaimanapun ada perbedaan selera dan preferensi yang menyebabkan mereka hanya mau menerima informasi (berita, data — walaupun kadang hoax) yang menyuburkan romantisme politik. (Hint: Cebong, Kampret, Jokowi, Prabowo)

Biarlah mereka asyik dengan pilihannya. Ada pepatah yang menyatakan bahwa kamu tidak akan mampu untuk melerai, mencegah orang yang sedang jatuh cinta. Sama halnya dengan laron yang terpaksa jatuh cinta pada ‘sumber hidupnya’ — cahaya yang gemerlap, mereka hanya berputar2 di sana. Sebuah jebakan atas nama fitrah cinta.¬† Ah, dunia.

Published
Categorized as Opini

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *