Puasa : mempertajam pancaran cahaya ilahi

Setelah melewati diskusi di mailing list, akhirnya RT saya mengadakan acara shalat tarawih bersama plus kultum. Tadinya banyak (?) yang tidak setuju jika pembicara (pemateri?) pada setiap kultum adalah dari warga sendiri. Beberapa alasan yang muncul di antaranya karena ‘tidak mampu’, tidak (atau belum) siap, dan sejenisnya. Saya sendiri, terus terang juga sebenarnya tidak siap, tapi menurut saya harus ‘disiapkan’, prepared by yourself.

Saya juga memahami alasan yang mengatakan bahwa dengan menyampaikan ‘tausyiah’ di kultum akan ada semacam beban moril agar tetap konsekuen antara yang diucapkan dengan perbuatan. Pak Aji menulis demikian. Mungkin yang dijadikan pertimbangan adalah firman Allah berikut :

Yaa ayyuhaladzina amanuu lima taquluuna ma laa taf’aluuna. Kaburo maktan indallahi antaquluu maalaa taf ‘aluun

Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.

(Alquran Surat As-Shaf:2-3).

Tapi oleh Pak Bustomi, menteri agama RT kita, dijawab dengan :

Beban moril..? Ini bagus sekali kan pak. Artinya , kita dikunci oleh omongan kita sendiri, bahwa kita harus tetap sejalan dengan apa yang telah kita ucapkan. Ini artinya kita akan selalu di jaga oleh MALAIKAT.
Hakekat malaikat di dalam diri kita , adalah sifat sifat dan kemampuan dari Nur kebaikan dari kita yang mengarahkan kita selalu terhubung kepadanNya.
Sementara hakekat setan di dalam diri kita adalah sifat sifat dan kemampuan dalam keburukan yang menarik kita semakin melekat kepada dunia material/fisikal yang kasar.
Jadi beban morilnya positif Pak..so..jangan khawatir. Beban moril yang sangat positif kok

Kalau kita konsekuen dan benar-benar beribadah di bulan Ramadhan, maka akan terbukti bahwa pada bulan itu, setan-setan akan dibelenggu dan tidak dapat melancarkan aksinya. Beberapa hari yang lalu, di kuliah subuh di Antv yang dipandu Sandrina Malakiano, Pak ustadznya malah sempat berujar, bahwa sepertinya tugas ‘seorang’ setan (dalam arti yang literal, yaitu makhluk setan), dewasa ini ringan sekali, atau bisa jadi setan-setan sudah selayaknya pensiun, karena tugasnya sudah banyak digantikan oleh manusia.

Maka dari itu, ummat Islam yang beriman, pasti sangat bersyukur sekali masih diberikan kesempatan menjumpai bulan Ramadhan, sebuah bulan yang mengigatkan kita akan keberadaan kita, dengan melakukan kontemplasi, pertaubatan, pembersihan diri dari segala potensi yang mendistori nilai ketuhanan yang ada pada tiap manusia. Dalam bulan itu kita disadarkan untuk mengasah kembali, mempertajam kembali pancaran cahaya ilahi pada diri kita dalam menjalankan amanahNya sebagai wakil Tuhan (khalifatullah) di muka bumi.

Selamat menunaikan ibadah shaum di bulan ramadhan. “

Sebagai arsip, berikut jadwal pembicara kultum tersebut :

DAFTAR PEMBICARA KULTUM TARAWEH RAMADHAN 2006 DI RT 07

TARAWIH Hari Tangal NAMA TEMA
1 Sabtu 23-Sep KI LURAH HERU PURWANTO
2 Minggu 24-Sep PAK RT MURSIDI
3 Senen 25-Sep SYAMSUL RIZAL
4 Selasa 26-Sep EDI SETIYONO
5 Rabu 27-Sep N WAHYU HANDOKO
6 Kamis 28-Sep MATSALI
7 Jum’at 29-Sep AKHMAD GHAZALIE SYAM
8 Sabtu 30-Sep M N BUSTOMI
9 Minggu 1-Oct AHMAD HARIS SOFRAN
10 Senen 2-Oct TRIYONO
11 Selasa 3-Oct NAMORA
12 Rabu 4-Oct PARAN RESTIYONO
13 Kamis 5-Oct AMRI
14 Jum’at 6-Oct SUPRANOTO
15 Sabtu 7-Oct BAMBANG H K
16 Minggu 8-Oct HAIRULLAH
17 Senen 9-Oct HERU SUWANDOYO
18 Selasa 10-Oct BURHAN
19 Rabu 11-Oct ROSYID
20 Kamis 12-Oct RAMDHAN
21 Jum’at 13-Oct HARUMAN SETIAJI
22 Sabtu 14-Oct EKO
23 Minggu 15-Oct M ILYAS
24 Senen 16-Oct INDRAJAYA
25 Selasa 17-Oct GATOT
26 Rabu 18-Oct RICO
27 Kamis 19-Oct IWAN SETIAWAN
28 Jum’at 20-Oct SUHENGKI
29 Sabtu 21-Oct SUPARDAN
30 Minggu 22-Oct YULIANTO

Imam Tetap : Bp. AGUS AMIN
Imam Pengganti : Bp. KHMAD SYAM GHAZALIE
Bp. N. WAHYU HANDOKO
` Bp. SYAMSUL RIZAL

Published
Categorized as Iyain

6 comments

  1. boleh juga selasa malem tarling di banten, dengerin petuah ustadz.Namora, dimana posisi pastinya? 🙂
    met puasa mas, mohon maaf lahir batin. *btw, tu di blogroll dhika yang manakah? bukannya dia udah pindahan?

  2. wah…sayang sekali ya, warga2nya ‘tidak mau’ berdakwah, dg alasan diri sendiri belum bisa menjalankan…

    padahal, seperti mas Namora tulis

    Saya sendiri, terus terang juga sebenarnya tidak siap, tapi menurut saya harus ‘disiapkan’, prepared by yourself.

    Saya juga memahami alasan yang mengatakan bahwa dengan menyampaikan ‘tausyiah’ di kultum akan ada semacam beban moril agar tetap konsekuen antara yang diucapkan dengan perbuatan. Pak Aji menulis demikian.

    mestinya cepet2 bergerak… 🙂

    jika selalu beralasan tidak siap, maka tidak pernah ada progress…dan hanya manusia2 yg celaka yg hari ini lebih buruk daripada hari kemarin…

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *