Sedikit tentang IT

Monday, June 14, 2004

Setelah beberapa bulan ‘nyemplung’ (lagi) ke dunia aplikasi dengan pendekatan prosedural dan escape (sejenak?) dari Object Oriented paradigma, saya menemui sebuah pengalaman baru yang mungkin dapat dijadikan sedikit referensi bagi implementasi produk IT di dunia nyata (baca: bukan dunia IT). Seperti banyak diketahui bahwa setidaknya terdapat 2 pendekatan yang paling menonjol dewasa ini dalam hal pemecahan masalah dengan menggunakan teknologi informasi; atau lebih sempit lagi, dalam dunia pemrograman aplikasi komputer, terkenal 2 paradigma, yaitu Procedure programming dan Object-Oriented Programming. Dewasa ini muncul lagi pendekatan baru yaitu Aspect-Oriented Programming.

Saya mungkin tidak dapat menguraikan satu persatu pengertian-pengertian tersebut di atas. Tapi yang jelas, pendekatan yang terkini cenderung lebih maju, walaupun –menurut saya– dalam hal maturitas pendekatan old-style (baca: Procedure programming) adalah lebih mature. Misalnya antara Procedure Programming dengan Object-Oriented programming, tentu OO Programming lebih maju dari segi konsep, ‘ideologi’ dan mungkin juga ‘nilai jual’ dari aplikasi yang dihasilkan.
Lalu bagaimanakah pandangan user terhadap 2 ‘mahsab’ ini? Sebagian user yang aware terhadap teknologi, entah memahami betul konsep OO ataupun termakan jargon orang marketing, tentu jika ditawari solusi OO akan senang sekali untuk menggunakan solusi OO tersebut. Sebagian lainnya ada juga yang tidak begitu mempersoalkan dengan cara apa dan bagaimana solusi yang diberikan oleh vendor IT bagi bisnis mereka.

Akhir-akhir ini saya terlibat di dalam project yang menggunakan pendekatan procedure programming. Saya hanya menerima ‘warisan’ project dari para ‘alumni’ periode sebelum saya (kapan ya saya bisa jadi ‘alumni’?). Tanpa bermaksud mengurangi dari ‘jasa’ mereka yang telah membuat aplikasi tersebut berjalan sedemikian rupa, tentu –menurut pendapat saya– banyak terdapat hal-hal yang jika dilihat dari kacamata dunia OO hal itu merupakan weakness point. Misalnya dengan banyaknya kode-kode program (source-code) yang ditulis berulang sehingga listing programnya menjadi panjang; ataupun dengan banyaknya statement GOTO yang kadang menyebabkan source-code tersebut seperti –apa yang dikatakan orang-orang sebagai:– sarang laba2. Tentu hal ini tidak dapat dipermasalahkan dan sah-sah saja, karena dari sisi logika proses bisnis, hal itu tidak menimbulkan masalah. Artinya, aplikasi tersebut sejauh ini working properly. Lagi pula memang banyak alasan mengapa digunakan pendekatan procedure programming dalam hal ini. Salah satu alasan yang tepat adalah mungkin karena pada waktu itu konsep OO belum lahir. Ditambah lagi, sepertinya dari sisi environment (misalnya hardware, operating system, development tools) juga tidak mendukung.

Dari sini mungkin dapat disimpulkan bahwa tidak ada yang terlalu jelek ataupun terlalu bagus dalam dunia IT, karena tidak ada yang baru dalam dunia IT karena yang ada adalah yang ‘paling baru’ — dan itupun tidak lama! Dan bahwa semua menempati atau mendapatan bagian masing-masing dalam kapasitasnya masing-masing memang benar adanya. Karena tidak ada monopoli dalam dunia IT. Dalam pandangan orang-orang marketing IT, yang ada adalah semangat ‘persatuan dan kesatuan’ dalam mendapatkan kue project IT. 🙂

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *