Taxi

Seorang pria muda yang duduk di kursi barisan depanku, terlihat mengganti posisi duduknya, kemudian mengenakan kembali sabuk pengaman, beberapa saat setelah diumumkan bahwa pesawat dalam hitungan menit segera mendarat.

Dari balik jendela, terlihat beberapa kali kilatan cahaya di langit yang gelap. Rupanya cuaca di luar sana tidak jauh berbeda dengan cuaca di Batam, satu setengah jam yang lalu, saat pesawat ini take-off.

Perlahan mulai terasa, badan pesawat agak bergetar, saat pesawat mulai menikung turun. Lampu-lampu di darat mulai banyak yang terlihat. Beberapa lampu terlihat berbaris menyala merah. Sepertinya itu lampu penerang di sepanjang pinggir jalan. Ah, berbalut kabut dan embun malam yang tipis, menjadikannya terlihat romantis ( — setidaknya bagi saya).

Dua orang wanita muda di seberang kursi saya, mulai memelankan suara obrolannya, dan akhirnya diam dengan diam-diam. Padahal sepertinya obrolan mereka sedang seru dan belum waktunya berhenti. Gesture mereka memperlihatkan bahwa ada yang tidak enak, ketika harus mengakhiri sesuatu dengan terpaksa. Salah satu dari mereka, wanita yang berkulit bersih, merogoh sakunya, mengambil ponselnya, menekan satu tombol dan seketika memasukkan kembali ke sakunya. Sepertinya dia ingin memastikan jam berapa sekarang, tapi dia lupa ponselnya sedang dimatikan. Akhirnya dia bertanya kepada temannya yang duduknya persis di seberangku. Temannya itu menunjukkan jarum di arloji hitam yang melingkar di lengannya, yang bulu halusnya terlihat samar terpapar dinginnya AC.

Waktu merambat pelan.

Sebenarnya tinggal bersabar sedikit, penerbangan ini akan segera berakhir. Untuk kali ini, tentunya. Saya termasuk orang yang tidak suka naik pesawat. Bisa jadi karena saya takut. Atau mungkin lebih tepatnya: takut dihadapkan kepada segala kondisi buruk yang sangat mungkin akan terjadi, dan hal itu di luar kontrolku.

Dalam hitungan detik, suasana di kabin terasa senyap. Sesekali terdengar noise microphone pilot yang mengontak air traffic controller untuk bersiap mendarat. Tidak lama kemudian, deru mesin pesawat terdengar berbeda. Hentakan roda pesawat di landasan — terdengar menggetarkan, diselingi suara gemuruh dari sayap pengerem laju pesawat.

Wajah-wajah penumpang terlihat lega. Agak riuh sebentar, kemudian disambut pengumuman dari kru pesawat. Di ujung sana terlihat Silvy, pramugari cantik di penerbangan ini memegang gagang telepon, dan suaranya terdengar di speaker interkom.

“…kami persilakan kepada anda untuk tetap duduk sampai pesawat ini benar-benar berhenti …”

Beberapa orang yang sudah siap-siap berdiri, kembali duduk rapi di kursinya. Aku hanya tersenyum. Sukanya kok buru-buru, gak sabaran. (((Manusia))).

Masih panjang memang, rutinitas yang harus dijalani sampai penumpang benar-benar bisa menjadi orang bebas di daratan. Belum lagi, beberapa di antaranya harus menjalani ritual pengambilan barang bawaan. Kali ini saya sedikit beruntung, karena saya cuma membawa satu ransel sehingga cukup di bawa ke kabin.

Malam seperti menua, seperti wanita tua yang sudah waktunya beristirahat

Hanya lampu-lampu berwarna orange di bandara yang sedikit menerangi selama pesawat ber-taxi.

Taxied: To move slowly on the ground‎ or on the surface of water before take-off or after landing

Goncangan pelan sedikit terasa ketika roda pesawat melaju di taxiway. Ya, pesawat ini berjalan pelan, kontras dengan kegarangannya saat di udara. Ribuan kilo meter ditempuhnya secepat kilat. Kini kekuatannya adalah menguji kesabaran penumpangnya, dengan berjalan pelan menyusuri mengelilingi bandara.

Orang memang harus disadarkan. Bahwa semua hadir dengan membawa tujuan tertentu. Everything happens for a purpose. Tidak semua hal harus menjadi sempurna, seperti yang kau mau. Apa yang bakal terjadi, seandainya pesawat komersial ini, tidak perlu melintasi taxiway, dan langsung nangkring di samping garbarata, dalam hitungan detik.

Memang, ukuran sebuah kesempurnaan, tidak selalu bahwa dia mampu memenuhi harapan. Sesuatu yang sempurna, kadang harus mempunyai hal lain yang menjadikannya dia tidak sempurna — di sisi satunya.

Kadang orang harus belajar menikmati dan menghargai sebuah proses.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *