Tentang N11

Saya baru saja blogwalking, dan mampir ke blog Dhika. Salah satu tulisan yang menarik adalah mengenai N-11 alias NII. Dan sepertinya banyak juga yang berkomentar tentang hal tersebut. Sepertinya fenomena NII belakangan ini muncul (seperti yang disinyalir dalam blog Dhika). Hal ini, menurut saya didukung oleh kondisi bangsa ini yang mengalami krisis berkepanjangan, baik krisis ekonomi, sosial, politik dan mungkin hampir di segala hal.

Saya jadi teringat tentang cerita dari seorang narasumber (identitasnya saya rahasiakan.. hehe) beberapa waktu yang lalu. Setelah saya cari-cari, akhirnya email kirimannya masih ada. Berikut ini saya copy-paste kutipan dari isi email tersebut, dengan sedikit penyesuaian tanpa mengubah isinya :

Waktu itu saya tengah mengalami masalah emosional, sehingga mudah sekali dimasuki paham-paham tersebut. Masalah emosional yang saya maksud, adalah … you know lah…hahaha.

Berikut ini adalah beberapa hal yang berkaitan dengan N11 :

  • Mereka berkali-kali dikonfirmasi apakah saya mempunyai keluarga yang ada hubungannya dengan Tentara (TNI) atau polri.
  • Istilah mereka sebentar lagi akan mencapai futuh (kemenangan), seperti halnya istilah Futuh Makkah di jaman Rasulullah. (Harusnya, seperti perkiraan dan program mereka, harusnya sekarang sudah mencapai kemenangan)
  • Untuk men-support program dan kegiatan mereka, diharuskan untuk berinfaq secara rutin tiap bulan. Jadi ada semacam target. Padahal waktu itu saya masih kuliah, dan dapat dikatakan hampir tidak mempunyai penghasilan selain dari orang tua (Irrational).
  • Mereka berpedoman pada sejarah Rasulullah, dan menyamakan kondisi-kondisi kehidupan sekarang dengan masa Rasulullah, dan mengatakan bahwa sejarah itu sedang terulang di sini (dejavu). Saat ini (saat itu pada waktu itu), adalah masih dalam fase … (namanya apa saya lupa), di mana banyak terdapat ketidakberaturan, karena syariat Islam belum sepenuhnya dijalankan / ditegakkan, sampai Rasulullah (pemimpin) datang dan futuh makkah, sehingga beberapa kaidah dapat dihilangkan (walaupun tidak harus), seperti puasa atau ibadah lainnya.

Beberapa alasan yang menyebabkan saya tidak setuju dengan kegiatan mereka :

  • Melakukan kebohongan, tipu-tipu, pengaburan atas segala hal (informasi) dan hal ini tidak dapat diterima oleh akal sehat.
  • Sebenarnya pemerintah sudah tahu eksistensi mereka, bahkan mungkin tahu siapa saja dan kegiatannya apa. Seseorang anggota NII pernah bercerita kepada saya, bahwa dia ‘dikatain’ sebagai semangka, yang artinya kulitnya hijau, tapi dalamnya merah. Saya tidak ngeh wakti itu, tapi akhirnya saya tahu apa maksudnya.
  • Banyak hal-hal yang tidak rasional dan mudah sekali melakukan justifikasi, exception terhadap suatu kondisi.

Begitulah… mestinya isi emailnya belum semua saya ungkapkan di sini. Tapi demi menjaga dari hal-hal yang tidak-tidak dan iya-iya.. hehe, lain kali saja saya lanjutkan tulisan ini.

Published
Categorized as Opini

5 comments

  1. hmmm….ini salah satu bahan artikel yg belum sempat dimuat karena belum selesai…di ITB juga banyak kok…makanya, aku sempet nyusun ttg bahan ini, tapi referensinya masih kuraaaangg.. 🙁

  2. Boleh juga koh sekali2 ditulis side B, jadi bisa both-cover version gitu loh! Lagi pula secara koh fami (secaranya asli secara nih), sebenarnya dia juga ada di side B kayaknya.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *